Dia menjelaskan, dalam peraturan lalu lintas, pengendara yang menggunakan pelat palsu pada kendaraannya dapat diberi sanksi paling lama dua bulan dan denda Rp500 ribu
RUANGPOLITIK.COM —Tersangka kasus penganiayaan terhadap anak pengurus GP Ansor, Mario Dandy Satrio terancam dijatuhkan hukuman yang lebih berat. Sebab, putra dari eks pejabat pajak ini menggunakan pelat palsu pada kendaraan yang digunakannya untuk melakukan tindak kejahatan.
Kepala Korps Lalu Lintas (Korlantas) Polri Irjen Pol. Firman Shantyabudi mengatakan, pelanggaran registrasi kendaraan tersebut dapat digunakan oleh penyidik guna memperberat hukuman terhadap Mario Dandy.
“Nanti reserse yang tanya. (Kendaraan) ini dipakai untuk apa. Kalau untuk ‘mohon maaf’ melakukan kejahatan maka nanti bisa memperberat (hukuman) barang kali,” kata Firman dikutip pada Jumat, 3 Maret 2023.
Dia menjelaskan, dalam peraturan lalu lintas, pengendara yang menggunakan pelat palsu pada kendaraannya dapat diberi sanksi paling lama dua bulan dan denda Rp500 ribu.
Kendati demikian, apabila kendaraan yang menggunakan pelat palsu tersebut digunakan untuk melakukan tindak kejahatan, maka penyidik bisa menambahkan sanksi pelanggaran registrasi kendaraan.
“Saya baca di peraturannya, kalau menggunakan pelat yang bukan nomornya itu sanksinya cuma dua tahun, atau lima ratus ribu,” ujar Firman.
Sebagaimana diketahui, Mario Dandy menggunakan mobil mewah jenis Rubicon dengan pelat nomor palsu saat hendak pergi menemui korban untuk melakukan aksi penganiayaan.
Penggunaan pelat nomor palsu pada mobil mewah tersebut, sontak menjadi perhatian publik terlebih saat nomor kendaraan aslinya diketahui belum membayar pajak.
Kasus penganiayaan diambil alih Polda Metro Jaya
Kasus penganiayaan yang melibatkan tersangka Mario Dandy dan S kini secara resmi diambil alih oleh Polda Metro Jaya pada Kamis, 2 Februari 2023. Setelah sebelumnya tengah diselidiki oleh pihak Polres Jakarta Selatan.
Usai kasus ini dialihkan pada Polda Metro Jaya, polisi pun menaikkan status hukum kepada temen wanita tersangka yakni AG, yang sebelumnya berstatus sebagai saksi menjadi anak yang berkonflik dengan hukum.
Mario terancam melanggar Pasal 355 KUHP ayat 1 subsider Pasal 354 ayat 1 KUHP subsider Pasal 353 ayat 2 KUHP subsider Pasal 351 ayat 2 KUHP dan atau 76c juncto 80 UU Perlindungan Anak dengan ancaman maksimal 12 tahun penjara.
Sedangkan untuk tersangka S terancam dijatuhi hukuman berdasarkan Pasal 355 ayat 1 juncto 56 KUHP subsider Pasal 354 ayat 1 Juncto 56 KUHP subsider Pasal 353 ayat 2 juncto 56 KUHP, subsider Pasal 351 ayat 2 jo 56 KUHP dan atau Pasal 76c juncto 80 UU Perlindungan Anak.
Editor: B. J Pasaribu
(RuPol)