• Personalia
  • Kerjasama & Iklan
  • Pedoman Media Siber
03 - 03 - 2026
  • Login
  • Register
No Result
View All Result
Ruang Politik
  • Home
  • Nasional
  • Kilas Update
  • Daerah
  • RuangPolling
  • RuangTokoh
  • RuangOpini
  • Home
  • Nasional
  • Kilas Update
  • Daerah
  • RuangPolling
  • RuangTokoh
  • RuangOpini
No Result
View All Result
Ruang Politik
No Result
View All Result
Home Nasional

Pengamat Efriza: Konflik Ganjar-Puan Karena Mekanisme Pemilihan di PDI-P Tidak Jelas

by Rupol
in Nasional
427 13
0
471
SHARES
1k
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

RUANGPOLITIK.COM — Genderang perang seperti tengah bertabuh di kubu internal PDI-Perjuangan. Partai besar yang dinakhodai oleh Megawati Soekarnoputri ini ditenggarai sedang mengalami gesekan di internal. Perseteruan bermula dari gagalnya Puan Maharani maju dalam Pilpres 2014 lalu, dimana akhirnya PDI-P mengusung Joko Widodo yang populer di akar rumput.

Ganjalan tak masuk dalam bursa capres sebelumnya ini ditenggarai  sebagai pemicu pergesekan di internal PDI-P yang kini mengarah ke Ganjar Pranowo. Kader PDI-P yang memiliki pesona sama seperti Jokowi. Dan kembali Puan Maharani merasa kalah pamor dengan Ganjar.

RelatedPosts

Komitmen Pelayanan, Jasaraharja Putera Serahkan Armada Shuttle untuk ASDP

Mosi Tak Percaya BEM PTMA Indonesia ke Pemerintah

Wacana Polri Dibawah Kementrian Ditolak Mahasiswa

Bahkan santer isu yang berkembang jika Jokowi lebih ingin kursi capres milik Ganjar. Membaca fenomena intrik di kubu PDI-P ini, pengamat politik sekaligus akademisi Efriza saat dihubungi RuPol.com mengatakan penyebab ini karena mekanisme di tubuh internal PDI-P yang tidak jelas. Dan keputusan lebih terpusat ke Megawati sebagai Ketua Umum.

“Sebenarnya ini lebih disebabkan karena tidak adanya fair play, dan keadilan. PDI-P tidak punya mekanisme penentuan awal dibalik layar misalnya siapa yang akan diusung. Sehingga tidak ada mekanisme berlomba-lomba untuk meraih popularitas dan elektabilitas,” jelas Efriza.

Menurut Efriza semua berlindung dibalik keputusan akhir Megawati Soekarnoputri. Jadi persaingannya sengit, cenderung mengarah ke ricuh. Persaingan ini cenderung tidak baik. Sebab, PDI-P larut dalam perdebatan mengenai siapa calon, tetapi melupakan visi-misi yang semestinya juga ditonjolkan oleh calon yang bersaing.

“Pengabaian ini terlihat di sengaja, sehingga PDI-P asyik bicara calon, tapi mengesampingkan visi-misi dan program kerjanya. Amat disayangkan, riuh-rendah pencapresan hanya soal nama, yang misteri juga karena keputusan ditangan Megawati Soekarnoputri selaku ketua umum PDI-P,” ulasnya.

Efriza berpendapat jika sosok Megawati sebagai pengambi keputusan tunggal, bukan otoriter. Melainkan kesepakatan PDI-P untuk keputusan penting seperti nama calon presiden atau pasangan calon presiden maupun koalisi, berada di tangan Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri semata.

“Pesona Megawati tidak hilang. Hanya saja, ambisi Puan, para pendukung Puan, sudah teramat terobsesi, juga putus asa, sehingga cenderung mengupayakan apa saja, seperti komunikasi melabeli Puan dengan bahasa ‘Teh Botol Puan’, ‘Dewan Kolonel’ bahkan sampai melabeli orang-orang misal dianggap pendukung Ganjar dan juga Ganjarnya sendiri dengan tidak diundang di acara resmi partai di daerah seperti di Jawa Tengah,” jelas Efriza.

Menurutnya kehadiran Dewan Kolonel tentu saja buruk bagi citra PDI-P. Sebab ini partai bukan institusi militer. Dan, Dewan Kolonel malah memberikan persepsi buruk kepada PDI-P, mengingatkan kepada masa Orde Lama dengan isu Dewan Jenderal, dan turut mengingatkan periode kelam PKI.

“Puan disinyalir sedang melakukan tekanan politik kepada Megawati Soekarnoputri sebagai Ketua Umum dan yang juga adalah Ibunya. Puan sepertinya sudah ngebet ingin nyapres, apalagi 2014 ada keinginan dihatinya tapi saat itu ia mengalah dan kalah, karena rekam jejak karirnya kurang kuat saat itu, hanya sebagai anggota DPR semata misalnya. Ia kalah popularitas dan elektabilitas dengan Joko Widodo kala itu,” jelasnya.

Dan kali ini sikap DPP PDI-P yang memberikan teguran tegas kepada Dewan Kolonel, Ganjar dan FX Rudi yang melangkahi kebijakan partai dengan berbicara pencapresan dianggap sebuah langkah yang multi tafsir.

“Dewan kolonel dapat dipersepsikan negatif seperti alat menekan melalui komando para komandan dilapangan, jadi ini seolah-olah alat tekanan politik, jika tak ingin dianggap ‘kudeta’, sebab memang tak akan sampai melakukan kudeta. Ini persaingan sengit semata. Puan dan pendukungnya sedang menekan Megawati Soekarnoputri selaku ketua umum PDI-P yang juga sosok ibunya,” ucapnya.

Persaingan sengit saat ini. Terjadi antara sesama kader, namun beda derajatnya. Ganjar adalah kader internal yang tidaklah istimewa. Dan  harus bertarung dengan Puan Maharani anak biologis dari ketua umum dan juga trah Soekarno.

Disaat yang sama ternyata Puan Maharani yang elite PDI-P dan juga Ketua DPP PDI-P bidang politiknya, sedangkan Ganjar hanya anggota internalnya dengan embel jabatan Gubernur Jawa Tengah. Dalam elektabilitas anggota internal PDI-P pilihannya sangat tinggi kepada Ganjar, sedangkan Puan Maharani hanya sekitar 4-10 persen dalam kalkulasi kasar, itu juga hanya dikalangan pejabat besar partai saja, yang takut jabatannya hilang.

“Jadi sisi Megawati sangat berat menciptakan keadilan untuk merebut suara rakyat menentukan capres antara Puan Maharani dan Ganjar Pranowo, disisi lain tidak adanya kepastian siapa sebenarnya yang diusung PDI-P, bisa saja bukan diantara keduanya, pertarungan ini selalu dibungkus dengan pernyataan keputusan terakhir di tangan Megawati. Inilah yang akhirnya turut menciptakan persepsi di masyarakat, pesona Megawati luntur,” imbuhnya. (IY)

Editor: Ivo Yasmiati

 

 

 

Tags: Dewan KolonelGanjarPengamat EfrizaPuan Maharani
Previous Post

Jokowi Dido’akan Relawan Ganjar Menjadi Ketum PDI-Perjuangan

Next Post

Puan Dinilai Mampu Persatukan Bangsa daripada Ganjar

Rupol

Next Post
Puan Dinilai Mampu Persatukan Bangsa daripada Ganjar

Puan Dinilai Mampu Persatukan Bangsa daripada Ganjar

Recommended

TSR Pemko Payakumbuh Kunjungi Masjid Muhsinin

TSR Pemko Payakumbuh Kunjungi Masjid Muhsinin

5 jam ago
Satreskrim Polres 50 Kota Lakukan Penyelidikan Dugaan PETI di Kapur IX

Satreskrim Polres 50 Kota Lakukan Penyelidikan Dugaan PETI di Kapur IX

16 jam ago

Trending

Wacana Polri Dibawah Kementrian Ditolak Mahasiswa

Wacana Polri Dibawah Kementrian Ditolak Mahasiswa

1 bulan ago
Anggota DPRD Golkar Sumbar dan Payakumbuh Gelar Buka Puasa Bersama Wartawan

Anggota DPRD Golkar Sumbar dan Payakumbuh Gelar Buka Puasa Bersama Wartawan

4 hari ago

Popular

Memperkokoh Kekuatan di Limapuluh Kota, Mantan Kader Golkar ini, Bergabung Bersama NasDem

Memperkokoh Kekuatan di Limapuluh Kota, Mantan Kader Golkar ini, Bergabung Bersama NasDem

4 minggu ago
Anak-anak penyiram makam yang lazim ditemui saat ziarah Ramadan di TPU Tegal Alur Kalideres, Jakarta/Antara

Doa dan Tata Cara Ziarah Kubur Orang Tua, Bolehkah Menyiram Air di Atas Kuburan?

3 tahun ago
Ciptakan Lalu Lintas Aman dan Tertib, Satlantas Polresta Payakumbuh Gelar Operasi Keselamatan 2026

Ciptakan Lalu Lintas Aman dan Tertib, Satlantas Polresta Payakumbuh Gelar Operasi Keselamatan 2026

2 minggu ago
Kota Barus, Tapanuli Tengah, Sumatera Utara/Wikipedia

Menelisik Sejarah Kota Barus, Gerbang Dakwah Islam Pertama di Indonesia

3 tahun ago
Tujuh Presiden RI /Repro

Julukan Presiden Indonesia dari Soekarno Sampai Jokowi

3 tahun ago
  • Personalia
  • Kerjasama & Iklan
  • Pedoman Media Siber

Copyright © 2023 Ruangpolitik.com - Smart Guide In Election - Cre4tive

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

ruang politik
No Result
View All Result
  • Home
  • Nasional
  • Kilas Update
  • Daerah
  • RuangPolling
  • RuangTokoh
  • RuangOpini
  • Login
  • Sign Up

Copyright © 2023 Ruangpolitik.com - Smart Guide In Election - Cre4tive