Padang–Dari ribuan nama yang mendaftar, hanya 100 yang dipanggil. Dan dari Kota Payakumbuh, hanya satu nama yang lolos: Syiffaa Najjla Athifa.
Ketua Umum OSIS SMAN 2 Payakumbuh itu berhasil menembus seleksi ketat Indonesian Student Leadership Training (ISLT) 2026 dan dinobatkan sebagai salah satu dari 100 Ketua OSIS Terbaik se-Indonesia. Ia menempati peringkat ke-26 nasional.
Bukan kebetulan. Jalan menuju Padang itu dimulai dari hal yang paling sederhana: sebuah esai dan video tentang empati.
Saat ribuan ketua OSIS lain menulis tentang kekuasaan dan program kerja, Syiffaa memilih menulis tentang empati. Tentang bagaimana mendengarkan sebelum memimpin. Dari situlah, juri ISLT melihat sesuatu yang berbeda. Ia pun dipanggil untuk datang ke Padang pada 11-18 Agustus 2026, berkumpul bersama 99 pemimpin pelajar terbaik dari Sabang sampai Merauke.
Selama delapan hari, Asrama Haji Embarkasi Padang menjadi rumah barunya.
Hari pertama, 11 Agustus, ia disambut dengan welcoming dinner di Istana Gubernur Sumatera Barat. Malam itu, untuk pertama kalinya Syiffaa duduk satu meja dengan ketua OSIS dari Papua, dari Aceh, dari NTT. Yang sebelumnya hanya ia kenal lewat Instagram, kini menjadi teman satu asrama.
Hari kedua, materi kepemimpinan dari tokoh-tokoh nasional menggemblengnya. Bukan teori di buku, tapi kisah nyata tentang bagaimana menjadi pemimpin di zaman yang serba bising.
Lalu hari ketiga dan keempat menjadi perjalanan napak tilas. Dari Kantor Gubernur, Masjid Raya Sumbar, Kantor DPRD Sumbar, hingga perjalanan ke Bukittinggi untuk mengunjungi rumah-rumah tokoh bangsa dan Lubang Jepang. Syiffaa tidak hanya belajar sejarah dari buku, ia berjalan di atas sejarah itu sendiri.
Dan puncaknya terjadi pada 17 Agustus 2026. Di hari ulang tahun ke-81 Republik Indonesia, Syiffaa dan 99 ketua OSIS lainnya mengikuti upacara bendera di Asrama Haji pada pagi hari, dan upacara penurunan bendera di Istana Gubernur pada sore hari. Di hari itu juga, mereka menari bersama. Tarian Nusantara dengan formasi 100 orang. Seratus pemimpin muda, seratus cerita, dalam satu semangat: Indonesia.
Bagi Syiffaa, ISLT bukan sekadar sertifikat dan gelar 100 terbaik.
“Pengalaman ini memberikan pemahaman bahwa Indonesia memiliki keberagaman yang sangat luas. Setiap daerah memiliki budaya, karakter, pengalaman, dan cara pandang yang berbeda. Namun, perbedaan tersebut dapat menjadi kekuatan ketika dipertemukan dalam semangat persatuan dan kolaborasi,” ujarnya.
Menjadi satu-satunya wakil Payakumbuh tentu membanggakan. Tapi di balik bangga itu, ada tanggung jawab yang lebih berat: membawa pulang semua nilai itu ke SMAN 2 Payakumbuh.
“ISLT 2026 menjadi pengalaman yang sangat berarti karena saya tidak hanya belajar bagaimana menjadi seorang pemimpin, tetapi juga belajar untuk memahami perbedaan, menghargai keberagaman, dan melihat Indonesia dari perspektif yang lebih luas,” kata Syiffaa.
Pada 18 Agustus, rangkaian itu selesai. 100 ketua OSIS kembali ke daerahnya masing-masing. Syiffaa pun kembali ke Payakumbuh, bukan lagi sebagai Syiffaa yang sama saat berangkat. Ia pulang sebagai bagian dari 100 orang terbaik, dengan satu tugas: membuktikan bahwa empati yang ia tulis di esai itu, benar-benar bisa ia jalankan sebagai pemimpin. (BP)