Payakumbuh— Di organisasi mana pun, seorang petahana yang memutuskan untuk maju kembali selalu punya dua beban: mempertahankan apa yang sudah dibangun, dan menjawab pertanyaan apa yang belum sempat diselesaikan.tulah posisi yang kini diambil Aspon Dedi.
Ketua PWI Payakumbuh-Limapuluh Kota periode 2022-2025 yang akrab disapa Popon itu, memastikan diri akan kembali bertarung di arena Konferensi PWI Payakumbuh-Lima Puluh Kota pada 26-27 September 2026 mendatang.
Keputusan itu tidak datang tiba-tiba. Tiga tahun memimpin PWI Payakumbuh- Lima Puluh Kota bukan waktu yang singkat.
Di bawah kepemimpinannya, PWI Payakumbuh-Lima Puluh Kota yang dulunya berpindah-pindah kantor, akhirnya punya rumah tetap yang representatif di Jl. Jend. Sudirman No. 1 Payakumbuh. Gedung pinjaman pakai dari Pemkab Lima Puluh Kota yang diresmikan Bupati Safaruddin pada September 2024 lalu itu menjadi saksi, bahwa PWI di tangannya tidak hanya sibuk dengan berita, tapi juga sibuk membangun marwah.
Dari 42 anggota di awal periode 2023, ia membawa PWI Paliko menjadi tuan rumah berbagai hajatan besar: mulai dari pengiriman 56 wartawan ke HPN Medan 2023, Raker pertama PWI daerah di Pekanbaru 2024, hingga dipercaya menjadi tuan rumah Porwarprov dan Silaturahmi SIWO se-Sumbar 2025. Tapi Popon tahu, itu belum cukup.
Masih ada pekerjaan rumah yang menggantung: konsolidasi anggota yang sudah mengantongi Kartu Seumur Hidup tapi belum UKW, penguatan kesejahteraan wartawan, dan tantangan terbesar menghadapi disrupsi media sosial.
Maka ketika panitia Konferensi membuka pendaftaran pada 20-21 September 2026 ini, langkah petahana untuk maju kembali dibaca sebagai sinyal: ia ingin menuntaskan.
Syaratnya pun ia penuhi. Sebagai pemilik Kartu Madya, pernah menjadi pengurus, bersih dari partai politik, bersih dari narkoba dan masalah hukum, serta tidak merangkap jabatan politik semua yang dipersyaratkan dalam delapan poin pendaftaran, melekat pada dirinya.
Kini, pertarungannya bukan lagi soal lolos verifikasi berkas. Pertarungannya adalah soal kepercayaan.
Apakah anggota PWI Payakumbuh- Lima Puluh Kota yang punya hak pilih, mereka yang sudah UKW masih percaya bahwa nahkoda lama layak melanjutkan pelayaran? Atau mereka menginginkan arah baru?
Bagi Aspon Dedi, maju kembali bukan soal haus jabatan. Di usianya, menjadi Ketua PWI bukan lagi soal popularitas. Ini soal tanggung jawab untuk memastikan PWI Payakumbuh-Lima Puluh Kota tidak berjalan di tempat.
Jawabannya akan ditentukan di arena Konferensi 27 September nanti. Saat surat suara dibuka, bukan hanya nama Aspon Dedi yang dipertaruhkan, tapi juga jejak tiga tahun yang telah ia ukir.
Bagi Popon PWI adalah denyut nadinya, yang selalu berdetak, Bergerak kearah yang lebih baik. Diantara goresan ujung pena yang setia menemaninya hingga di ujung senja. (BP)