Polemik Tunda Pemilu
Berbagai pandangan pun datang dari pengamat politik yang menyebut usulan Cak Imin hanya sekedar untuk menaikan elektabilitasnya.
Hal itu diungkapkan, Pengamat Politik Ray Rangkuti yang menilai usulan penundaan pelaksaan Pemilu 2024 yang dilontarkan Ketua Umun PKB Cak Imin semata-mata hanya untuk menaikan elektabiltasnya saja.
“Menempatkan Cak Imin sekaligus PKB dalam perbincangan publik. Popularitas dan elektabilitas Cak Imin tertinggal jauh dibandingkan dengan kandidat capres baik dari ketua parpol maupun non parpol. Ide unik ini akan menjadikan Cak Imin dan PKB dalam pusaran perbincangan,” kata Ray Rangkuti.
Pendiri Lingkar Madani (Lima) ini mengatakan, ide-ide yang kontroversial saat ini belum dipakai oleh para kandidat capres untuk menaikan elektabilitas.
Menurutnya, ide Cak Imin menunda pemilu hingga dua tahun sesuatu yang serius. Jelas, ide tersebut hanya basis argumen, tujuan penundaan, dan reaksi publik atas hal itu akan sulit mewujudkan keinginan menunda pemilu.
“Cak Imin melihat, ide-ide menohok tidak banyak dipergunakan oleh parpol atau kandidat capres dalam menaikan popularitas maupun elektabilitas. Cak Imin memasuki ranah itu. Mengeluarkan isu tajam, kontroversial tapi terukur. Artinya Cak Imin sangat paham bahwa ide yang disampaikan akan sulit terlaksana,” paparnya.
Saat ini, ide tersebut diperbincangkan banyak pihak yang menyebabkan Cak Imin dan PKB menjadi sorotan para publik.
“Saya kira, dengan begitu banyak reaksi publik dan parpol, salah satu tujuan ide ini telah dicapai,” imbuh Ray Rangkuti
Sementara itu, Pengamat komunikasi politik Universitas Esa Unggul M. Jamiluddin Ritonga mengatakan, usulan Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar atau Cak Imin agar Pemilu 2024 diundur tentu sangat disesalkan.
“Cak Imin tampaknya sudah menjadi bagian para oligarki untuk menggolkan penundaan pemilu. Ia terkesan menggadaikan partainya untuk kepentingan pribadinya,” kata Jamiluddin.
Lebih lanjut, ia menilai, alasan diundurnya Pemilu 2024 agar perbaikan ekonomi tidak terganggu sangat tidak masuk akal. Sebab, selama Joko Widodo menjadi presiden, belum pernah pertumbuhan ekonomi mencapai 7 persen, sebagaimana yang sering dijanjikan.
Padahal sebelum pandemi Covid-19, pertumbuhan ekonomi di kisaran 5 persen. Pertumbuhan ekonomi semakin jeblok selama pandemi Covid-19 menghantam Indonesia.
“Karena itu, tidak ada keyakinan pertumbuhan ekonomi akan membaik bila Pemilu 2024 ditunda. Justru dengan ditundanya pemilu 2024 dikhawatirkan stabilitas politik akan terganggu,” paparnya.
“Cak Imin harus taat konstitusi, bukan malah berpihak kepada oligarki. Itupun kalau Cak imin tak ingin mendapat amarah dari anak negeri,” tambah Jamiluddin.
Selain membuat gaduh, usulan penundaan pemilu 2024 yang dilontarkan Cak Imin karena ia mendapat tekanan dari Presiden Joko Widodo. Hal itu diungkapkan Pengamat politik dari Universitas Al Azhar Indonesia Ujang Komarudin.
“Kelihatannya Cak Imin ketakutan ditekan Jokowi, sehingga berkata seperti itu. Dan bisa juga ketum-ketum partai juga akan ditekan tuk bersuara yang sama seperti Cak Imin,” kata Ujang Komarudin.
Lebih lanjut, Direktur Eksekutif Indonesia Political Review itu menyebut, usulan penundaan Pemilu 2024 yang diutarakan Cak Imin merupakan kepentingan oligarki dan koorporasi. Bukan kepentingan rakyat.
“Itu juga ada hubungannya dengan persoalan Cak Imin. Soal elektabilitanya yang tak naik dan sedang tak harmonis dengan PBNU,” imbuhnya.