JAKARTA — Anggota Komisi VI DPR RI Fraksi PDI Perjuangan Mufti Anam meminta pemerintah dan operator kereta api memperkuat sistem pengujian serta evaluasi terhadap KRL Commuter Line seri CLI 225 produksi PT INKA (Persero), menyusul adanya gangguan teknis pada sistem pintu kereta.
Mufti menilai persoalan tersebut perlu menjadi bahan evaluasi menyeluruh agar setiap rangkaian KRL yang digunakan untuk mengangkut penumpang benar-benar memenuhi standar kualitas dan keselamatan. Menurutnya, dukungan terhadap industri perkeretaapian nasional harus berjalan seiring dengan kepastian bahwa produk yang digunakan masyarakat memiliki tingkat keandalan yang tinggi.
“Kita tentu ingin industri perkeretaapian nasional terus tumbuh dan semakin banyak produk dalam negeri yang digunakan. Tetapi dukungan terhadap produk nasional tidak boleh membuat kita menurunkan standar terhadap kualitas dan keselamatan,” kata Mufti.
Ia menegaskan, gangguan pada pintu KRL tidak semestinya dianggap sebagai persoalan teknis biasa. Pintu merupakan salah satu bagian penting dalam sistem keselamatan penumpang, terutama karena KRL digunakan masyarakat dalam jumlah besar setiap hari.
“Gangguan pada pintu tidak bisa dianggap sekadar persoalan teknis kecil. Pintu merupakan bagian dari sistem keselamatan penumpang, sehingga setiap gangguan harus ditangani secara serius dan dicari penyebabnya sampai tuntas,” ujarnya.
Mufti meminta pemerintah bersama PT INKA, PT KAI dan KAI Commuter memastikan penyebab gangguan diketahui secara menyeluruh. Evaluasi, kata dia, tidak cukup hanya dilakukan terhadap satu rangkaian yang mengalami masalah, tetapi juga perlu melihat kemungkinan adanya persoalan serupa pada unit lain dengan spesifikasi atau komponen yang sama.
“Perlu dipastikan apakah persoalan tersebut hanya terjadi pada unit tertentu atau menunjukkan adanya masalah yang lebih sistemik, baik pada desain, komponen, proses produksi, pengujian maupun pemeliharaan,” katanya.
Karena itu, Mufti meminta setiap rangkaian KRL yang mengalami gangguan tidak kembali beroperasi sebelum melalui pemeriksaan dan dinyatakan laik serta aman digunakan. Ia mengingatkan kebutuhan operasional tidak boleh mengesampingkan aspek keselamatan penumpang.
“Jangan sampai kebutuhan operasional membuat kereta dikembalikan ke lintasan sebelum akar persoalannya diketahui dan seluruh fungsi keselamatannya dipastikan bekerja dengan baik,” tegas Mufti.
Jika hasil pemeriksaan menunjukkan potensi gangguan yang sama pada rangkaian lain, Mufti mendorong dilakukan tindakan korektif secara menyeluruh. Termasuk, menurutnya, kemungkinan penarikan sementara atau recall apabila langkah tersebut memang diperlukan berdasarkan hasil pemeriksaan teknis dan pertimbangan keselamatan.
“Kalau secara teknis memang diperlukan penarikan sementara atau recall, lakukan. Keselamatan masyarakat harus menjadi pertimbangan pertama,” ujarnya.
Di sisi lain, Mufti mendorong INKA memperkuat kemampuan riset dan pengembangan (R&D) serta fasilitas pengujian produk. Menurutnya, kemampuan industri perkeretaapian nasional tidak hanya diukur dari kapasitas produksi, tetapi juga dari kemampuan memastikan produk mampu bekerja secara aman dan andal dalam berbagai kondisi operasi.
“Industri kereta nasional tidak cukup hanya memiliki kemampuan memproduksi rangkaian. Kita juga harus mempunyai kemampuan menguji produk dalam berbagai kondisi operasi secara ketat sebelum digunakan masyarakat,” katanya.
Mufti menilai pengujian dinamis yang memadai penting untuk menemukan potensi kelemahan sebelum rangkaian KRL masuk pelayanan komersial. Dengan demikian, persoalan teknis dapat diidentifikasi dan diperbaiki sejak tahap pengembangan maupun pengujian, bukan setelah kereta digunakan untuk mengangkut penumpang.
“Produk harus mendapatkan ruang pengujian yang memadai untuk mengetahui kelemahannya sebelum masuk ke pelayanan komersial. Jangan sampai persoalan yang seharusnya bisa ditemukan pada tahap pengujian justru baru diketahui ketika kereta sudah membawa penumpang,” ujarnya.
Mufti menegaskan evaluasi terhadap gangguan KRL INKA bukan dimaksudkan untuk melemahkan industri nasional. Sebaliknya, penguatan pengujian dan standar keselamatan dinilai penting untuk meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap produk perkeretaapian dalam negeri.
“Pada akhirnya kita tetap ingin INKA semakin kuat dan produk kereta Indonesia semakin dipercaya. Tetapi kepercayaan itu dibangun melalui kualitas,” pungkas Mufti.