RUANGPOLITIK.COM-Presiden Jokowi menyinggung pemimpin yang berani saat berpidato di acara Musyawarah Rakyat (Musra). Presiden mengungkapkan Indonesia butuh pemimpin yang dekat dengan rakyat dan berani untuk kepentingan rakyat.
“Negara ini adalah negara besar. Bangsa ini adalah bangsa besar. Penduduk kita sudah 280 juta, kurang lebih. Rakyat kita butuh pemimpin yang tepat, butuh pemimpin yang bener. Yang dekat dengan rakyat,” kata Jokowi, beberapa waktu lalu.
“Yang paham hati rakyat, yang tahu kebutuhan rakyat. Yang mau bekerja keras untuk rakyat. Itu yang dibutuhkan. Dan pemberani. Yang berani, pemberani demi rakyat,” ujarnya menambahkan.
Merespons hal itu, Waketum Partai Gelora Fahri Hamzah menilai pidato Jokowi di Musra tersebut merupakan pidato yang paling menjiwai sepanjang pidato Jokowi selama ini.
“Mungkin itu semacam pidato perpisahan ya. Sehingga akumulasi dari apa yang dia rasakan itu kayaknya keluar. Kalau kita lihat itu kan bisa dibilang nyaris tanpa teks dan gelombang artikulasinya itu memang kuat itu dan keras sekali,” jelas Fahri. Dikutip dari podcast channel youtube 2045TV.
Mantan politisi PKS ini mengatakan Jokowi terlihat lepas di depan relawannya. Menurut Fahri, hal itu karena Jokowi berasal dari kalangan rakyat.
“Kayaknya beliau kalau di depan politik kayaknya dia (Jokowi) lebih basa basi. Tapi kemarin (Musra) itu benar benar dia sampaikan maksudnya,” katanya.
Namun, Fahri mengaku tak mengetahui sosok sasaran dari pidato Jokowi. Namun dia menangkap beberapa poin dari pidato Jokowi.
“Poin-poinnya adalah pentingnya kemandirian karena itu pemimpin harus punya sikap karena itu dia harus berani menghadapi kenyataan tekanan dan semualah intrik yang mungkin datang dari luar tapi yang terakhir adalah dia harus tetap dekat dengan rakyat karena yang harus dia dengar itu adalah rakyat,” tuturnya.
EDITOR: Adi Kurniawan
(RuPol)