RUANGPOLITIK.COM— Koordinator Nasional Sahabat Anas Urbaningrum Muhammad Rahmad memberikan tanggapan atas pernyataan Koordinator Juru Bicara Partai Demokrat, Herzaky Mahendra Putra yang menyebut Anas dan faksinya adalah sejarah kelam Partai Demokrat.
“Herzaky Mahendra Putra adalah anak kemarin sore yang arogan dan angkuh. Ia juga tidak tahu cara membaca data dan melihat fakta di dalam Partai Demokrat,” kata Rahmad dalam keterangan persnya.
Rahmad menjelaskan sejarah kelam Demokrat justru terjadi ketika SBY dan anak-anak nya membawa Partai Demokrat yang awalnya sangat demokratis, merakyat dan milik rakyat, kini berubah menjadi partai tirani keluargais, otoriter, sewenang-wenang dan pura pura merakyat.
“Sejarah kelam kedua adalah Perolehan suara pemilu dan kursi DPR RI terendah sepanjang sejarah Demokrat, terjadi ketika SBY menjadi Ketua Umum dan ketika AHY dan IBAS (keduanya anak SBY) diserahi tugas memenangkan pemilu,” pungkasnya.
Rahmad menambahkan sejarah kelam ketiga adalah ketika SBY mengaku sebagai pendiri partai demokrat dan mendaftarkannya ke Kemenkumham secara diam diam.
“Sejarah kelam keempat Partai Demokrat terjadi ketika AD ART Partai Demokrat tahun 2020 dibuat oleh kroni kroni SBY-AHY menjadi Partai anti Demokrasi yang pura pura Demokratis,” ujarnya.
“Jika publik mau membuktikan, saya tantang Partai Demokrat AHY debat terbuka untuk membuktikan bahwa sejarah kelam itu terjadi di masa siapa? Masa Anas atau masa SBY dan AHY,” tukasnya.
Kepala Badan Komunikasi Strategis DPP Demokrat Herzaky Mahendra Putra menanggapi soal kabar bebasnya Mantan Ketua Umum (Ketum) Partai Demokrat Anas Urbaningrum pada 10 April 2023.
Menurut dia, pihaknya tak ambil pusing sebab Anas bukan lagi bagian dari Demokrat.
“Ini kan bukan bagian dari kami lagi ya gitu. Kalau dari kami jelas, kami bersyukur bahwa kami punya pelajaran pahit di masa lalu yang membuat kami jauh lebih kuat,” kata Herzaky di Kantor DPP Partai Demokrat, Jakarta Pusat, Senin (3/4/2023).
Dia menyampaikan partainya sudah bersih-bersih dari kelompok-kelompok yang mencoba merusak partainya itu di masa lalu. Sisanya, kata dia tinggal langkah Kepala Staf Kepresidenan (KSP) Moeldoko di Kongres Luar Biasa (KLB) pada 2021 silam.
Editor: Ivo Yasmiati
(RuPol)