RUANGPOLITIK.COM — Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Jawa Barat belum memutuskan siapa figur yang akan direkomendasikan sebagai calon presiden (capres) 2024. Namun dari beberapa nama yang mencuat, Ridwan Kamil masih menjadi figur favorit untuk disodorkan ke DPP PPP sebagai capres.
“Semuanya masih berproses, belum dikerucutkan. Tapi memang harus diakui, Pak Ridwan Kamil di beberapa pengurus cabang di Jawa Barat itu yang paling diunggulkan namanya untuk direkomendasikan (sebagai capres),” kata Plt Ketua DPW PPP Jabar Pepep Saepul Hidayat, Jumat (11/11) kepada wartawan.
Pepep menyebut, hal ini wajar karena PPP merupakan partai pengusung Ridwan Kamil yang berpasangan dengan Uu Ruzhanul Ulum di Pilgub Jawa Barat. Menurutnya, PPP punya irisan komunikasi politik dengan Ridwan Kamil yang akhirnya jadi favorit kader di wilayah untuk diusung sebagai capres.
“Akhirnya menjadi sangat rasional kalau di Jawa Barat sekarang kader PPP lebih menjagokan dan mengusulkan nama Pak Ridwan Kamil dibanding nama-nama yang lain,” katanya.
Namun demikian, Pepep menyebut sejumlah figur juga muncul untuk direkomendasikan PPP Jabar ke DPP sebagai calon presiden seperti Anies Baswedan, Ganjar Pranowo hingga nama Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa yang namanya mencuat dari rekomendasi kader perempuan PPP di Jawa Barat.
Tak hanya PPP, Ridwan Kamil masuk dalam radar PAN. Sebelumnya, elite PAN Bima Arya sempat menjodohkan RK dengan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo untuk diusung sebagai pasangan capres dan cawapres 2024. Bima mengatakan kemungkinan itu cukup besar lantaran nama Ganjar disebut di internal KIB.
“Kan nama Mas Ganjar disebut di internal KIB, jadi kalau nama Mas Ganjar tidak berangkat dari sana (PDIP) maka kemungkinannya sangat besar. Akan sangat besar di KIB,” kata Bima Arya di Jakarta, Sabtu (29/10).
Bima mengatakan partainya memperhitungkan dua nama yang akan diajukan sebagai bakal capres dan cawapres kepada KIB.
“Dua nama ini adalah peringkat satu dan peringkat empat paling populer dalam survei-survei di Indonesia. Nomor satu Mas Ganjar, nomor empat Kang Emil. Kedua dan nomor tiganya sudah tanda kutip diambil partai lain. Jadi sangat wajar apabila PAN sangat menghitung dua nama ini untuk dibicarakan di KIB,” pungkasnya.
Editor: Ivo Yasmiati