Payakumbuh – Kalender di dinding Sekretariat PWI Payakumbuh–Limapuluh Kota terus menipis. Jumat, (19/9/2026). Tersisa tujuh hari. Hanya sepekan lagi menuju dua hajatan besar: Konferensi PWI Payakumbuh–Lima Puluh Kota dan Orientasi Kewartawanan dan Keorganisasian (OKK) PWI Sumatera Barat Angkatan II.
Jika dilihat dari luar, mungkin tampak tenang. Tapi di dalam, mesin kepanitiaan sedang meraung di putaran tertinggi. Istilah anak muda sekarang: “Gaspol.”
Tidak ada lagi waktu santai. Dua agenda pada 26-27 September 2026 itu bukan sekadar acara seremonial yang selesai dengan foto bersama. Ini adalah pertaruhan marwah organisasi.
Di ruangan rapat yang hampir tak pernah sepi, Ketua Organizing Committee (OC) Konfercab, M. Farhan Faridho Medetti, terus mengulang satu kalimat: pastikan semua beres.
“Persiapan terus kita matangkan. Seluruh bidang dalam kepanitiaan kita minta memastikan tugas masing-masing berjalan dengan baik,” ujarnya, singkat tapi menekan. Bagi Farhan, detail kecil adalah musuh besar. Satu daftar peserta yang tercecer, satu surat yang belum terkirim, bisa merusak tertibnya acara.
Di sudut lain, kesibukan yang sama dirasakan Ketua OKK PWI Sumbar Angkatan II, Bambang Zulwadi. Jika Farhan sibuk dengan teknis Konfercab, Bambang berjibaku dengan tumpukan administrasi.
Baginya, OKK adalah gerbang. Gerbang yang tidak boleh dibuka setengah-setengah. Seorang wartawan tidak bisa lahir hanya karena bisa menulis, tapi karena ia lolos verifikasi administrasi, kelengkapan data, dan kesiapan mental.
“Yang paling penting sekarang memastikan seluruh administrasi dan kesiapan peserta benar-benar lengkap. Kita ingin pelaksanaan OKK ini berjalan tertib dan sesuai ketentuan,” kata Bambang. Nada suaranya tenang, tapi di balik itu ada kecemasan khas seorang ketua pelaksana: ingin semuanya sempurna.
Dan memang, keduanya sadar, apa yang mereka siapkan bukan sekadar panggung dan spanduk.
Konfercab adalah tentang masa depan. Tentang siapa nahkoda PWI Payakumbuh–Lima Puluh Kota selanjutnya yang akan membawa gerbong wartawan di tengah gempuran media sosial dan disinformasi.
Sementara OKK adalah tentang regenerasi. Tentang bagaimana Peraturan Dasar (PD) dan Peraturan Rumah Tangga (PRT), UU Pers No. 40, Kode Etik Jurnalistik, hingga jerat UU ITE harus benar-benar dipahami, bukan sekadar dihafal.
Kini, jam terus berdetak. Koordinasi demi koordinasi, evaluasi demi evaluasi terus dilakukan. Tidak ada ruang untuk bekerja setengah-setengah. Panitia berjibaku mengerahkan segala upaya agar kegiatan tersebut berjalan maksimal. Rasa kebersamaan terpupuk yang menjadi landasan untuk satu tujuan.
Karena pada 26 September nanti, ketika semua peserta duduk dan acara dibuka, panitia ingin satu hal: semua perangkat sudah siap. Tertib, lancar, dan kegiatan sukses. (BP)