JAKARTA – Kenaikan harga sejumlah bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi mendapat perhatian Anggota Komisi VI DPR RI, Hj. Ida Nurlaela Wiradinata. Ia meminta pemerintah dan Pertamina menyiapkan langkah mitigasi untuk menjaga daya beli masyarakat serta mencegah kenaikan biaya logistik.
PT Pertamina Patra Niaga melakukan penyesuaian harga sejumlah BBM non-subsidi mulai September 2026. Di wilayah Jakarta dan sekitarnya, harga Pertamax Turbo naik menjadi Rp19.600 per liter, Dexlite Rp23.700 per liter, dan Pertamina Dex Rp25.200 per liter. Sementara harga Pertamax RON 92 masih Rp15.950 per liter.
Ida menilai dinamika harga minyak dunia perlu diantisipasi sejak awal agar dampaknya terhadap perekonomian tidak meluas. Menurutnya, perubahan harga energi dapat berpengaruh terhadap biaya transportasi, logistik, hingga harga kebutuhan pokok.
“Pemerintah dan Pertamina perlu mengantisipasi dampak kenaikan harga BBM non-subsidi terhadap daya beli masyarakat, biaya logistik, hingga harga kebutuhan pokok,” ujar Ida.
Ia juga meminta setiap kebijakan penyesuaian harga BBM dilakukan secara terukur dengan mempertimbangkan kondisi pasar, nilai tukar rupiah, serta kemampuan masyarakat.
“Gejolak harga minyak dunia harus diantisipasi dari awal. Jangan sampai kenaikan harga energi global berujung menjadi beban baru bagi masyarakat,” tegasnya.
Ida mendorong pemerintah dan Pertamina memperkuat tiga langkah, yakni menjaga ketersediaan pasokan energi, meningkatkan efisiensi biaya operasional, serta memastikan transparansi dalam formulasi harga BBM.
Menurutnya, strategi tersebut diperlukan agar keberlanjutan layanan energi tetap terjaga sekaligus mengantisipasi dampak kenaikan harga BBM terhadap aktivitas ekonomi masyarakat.