RUANGPOLITIK.COM — Saat resepsi pernikahan putra bungsu Presiden Jokowi yang berlangsung Minggu, (11/12) di Solo terlihat mantan presiden Soesilo Bambang Yudhoyono menghadiri pernikahan Kaesang Pangarep dan Erina Gudono.
Tak hanya itu, dua putra mahkota SBY yakni Agus Harimurti Yuhoyono (AHY) dan Edhie Baskoro Yudhoyono (Ibas) juga menghadiri resepsi pernikahan tersebut bersama keluarga. Dalam momentum kehadiran tersebut mantan presiden SBY mengakui jika ia memiliki hubungan yang baik dengan Jokowi. Begitu juga dengan putra Jokowi, yakni Kaesang yang pernah menghadiri saat Ibu Ani Yudhoyono meninggal di Singapura.
“Tentu dengan Pak Jokowi kami memiliki hubungan yang baik, mungkin tidak selalu diketahui oleh pers,” kata SBY kepada awak media, saat menghadiri acara tasyakuran malam pernikahan Kaesang Pangarep dengan Erina Gudono di Puro Mangkunegaran, Solo, Jawa Tengah, Minggu (11/12).
Menurut pengamat politik Ujang Komarudin saat dihubungi RuPol, Senin (12/12) adakah kaitannya hubungan diplomatis antara SBY dan Jokowi dengan persiapan pilpres 2024? Ujang melihat jika hubungan SBY dan Jokowi lebih ke arah personal, bukan politik. Karena Jokowi sendiri tidak memiliki power di PDIP sebagai pengambil kebijakan.
“Hubungan SBY dan Jokowi saya rasa baik secara pribadi, tapi jika dikaitkan dengan hubungan politik antara Demokrat dan PDIP akan berat sekali,” jelasnya.
Alasan Ujang adalah pemegang otoritas tertinggi di PDIP masih Megawati, sementara rekam jejak sejarah masa lalu hubungan SBY dan Megawati masih menyisakan ‘trauma politik’ yang masih belum pulih, meski saat KTT G-20 SBY dan Megawati terlihat duduk satu meja. Sehingga peluang adanya kerjasama politik antara Demokrat dan PDIP tak mudah.
“Peluang itu masih ada, karena politik itu dinamis. Tapi agak berat jika seandainya itu terjadi. Karena penentu koalisi bukan di Jokowi tapi pada Megawati. Rasanya sulit untuk peluang ini terjadi,” jelas dosen Universitas Al-Azhar Indonesia ini.
Sementara itu, Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Ahmad Syaikhu menyatakan secara terbuka, jika Koalisi Perubahan tengah membidik Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa sebagai cawapres Anies. Ujang melihat, jika duet Anies-Khofifah terwujud ini akan menjadi kuda hitam yang sangat luar biasa. Karena sosok Khofifah yang punya pengalaman politik, basis massa NU yang kuat dan akan menambah dukungan kaum ibu atau perempuan.
“Alasan yang sangat rasional dan realistis sekali jika Khofifah menjadi cawapres Anies. Kalkulasi politik berbahaya ketika Anies dan Khofifah berdampingan karena latar belakang NU, ibu-ibu, muslimat. Namun yang paling berat adalah ketika Anies harus berhadapan dengan internal koalisi,” jelasnya.
Namun, Ujang melihat ada titik lemah jika seandainya pilihan itu Anies-Khofifah itu terjadi. Ini sama halnya mengulang peristiwa yang sama saat pilpres 2019 lalu, ketika AHY gagal jadi cawapres Prabowo, dan lebih memilih Sandiaga Uno. Hasilnya bisa terlihat mesin partai Demokrat seperti tak terlihat untuk memenangkan pasangan tersebut.
“Seharusnya dalam etika berkoalisi yang paling diutamakan adalah patner di koalisi. Tapi jika akhirnya pilihan tersebut AHY tersingkir, Aher tersingkir. Bisa jadi Demokrat tidak akan sungguh-sungguh dalam memenangkan Anies,” ulasnya.
Artinya Demokrat bisa saja tetap bergabung dalam Koalisi Perubahan, namun tidak akan total. Dan jika melihat kehadiran dua putra mahkota SBY yakni AHY dan Ibas di resepsi kemarin, tak menutup kemungkinan hubungan baik ini akan memberikan tawaran jabatan.
“Jika reshuffle kabinet terjadi dan Demokrat ditawari kursi menteri hal ini bisa saja terjadi. Namun itu berarti Demokrat harus meninggalkan dukungan kepada Anies. Intinya tawaran tersebut bisa saja terjadi asal Anies tidak memiliki perahu sebagai capres,” tegas Ujang.
Karena itu Ujang menilai keputusan koalisi nanti akan bergantung kepada petinggi partai. Jika PDIP jelas masih Megawati sebagai penentu, sedangkan di Demokrat masih SBY. Sehingga jika dilihat dari kedua latar belakang ini, meski ada terbuka celah koalisi karena hubungan baik SBY dengan Jokowi, tapi rasionya sangat kecil sehingga. Sehingga bisa dilihat kemana arah Demokrat jika AHY tidak dipilih sebagai cawapres Anies Baswedan. (IY)
Editor: Ivo Yasmiati
(RuPol)