RUANGPOLITIK.COM – Sebuah tagar tentang Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar, tiba-tiba trending di twitter sejak sore hingga malam hari kemarin, Rabu (4/5/2022).
Tagar tersebut berbunyi #HasilSurveyJeblok, yang menyatakan elektabilitas Ketum PKB itu terus mengalami penurunan dari berbagai hasil survey.
Pengamat politik dari Citra Institute Efriza juga memperhatikan hal tersebut, yang menurutnya merupakan dampak dari pernyataan Muhaimin tentang Yahya Cholil Staquf (Ketum PBNU).
“Saya memperhatikan akun-akun yang mencuitkan itu kebanyakan ada korelasi dengan NU. Mungkin itu merupakan feedback dari pernyataan Muhaimin yang sempat heboh, tentang 13 juta pemilih PKB yang solid, tidak terpengaruh oleh Gus Yahya itu,” ujar Efriza melalui keterangan tertulis kepada RuPol, Kamis (5/5/2022).
Efriza juga menyebut ada semacam keputus-asaan dari seorang Muhaimin Iskandar, yang gagal berkali-kali dalam menaikkan elektabilitasnya.
“Awalnya kita perhatikan Muhaimin coba membranding melalui nama panggilan, ada Cak Imin berganti Gus Ami, berganti lagi Gus Muhaimin. Kemudian mencoba dengan gaya-gaya dan pernyataan-pernyataan nyeleneh, pasang spanduk dengan vespa. Memang itu bisa mengangkat popularitasnya, tapi tidak linier dengan elektabilitas. Ada semacam keputus-asaan yang kemudian muncul, sehingga akhirnya keluarlah pernyataan usulan penundaan pemilu yang viral, tapi mendapat penolakan yang luar biasa,” terang Efriza.
Namun walau bagaimanapun, menurut Efriza pernyataan menyerang terhadap Ketum PBNU kali ini sebuah langkah yang salah.
Ini akan membuat simpati Nahdliyin akan merosot tajam terhadap Muhaimin.
Berita terkait:
Tagar Hasil Survey Jeblok, Muhaimin Iskandar Trending di Twitter
Dekati Anies, Pengamat: Zulhas Berharap ‘Efek Ekor Jas’ Pilpres 2024
Sholeh Basyari: Pernyataan Muhaimin ke Gus Yahya Picu Perpecahan Nahdliyin
Pemilih PKB 13 Juta, Muhaimin: Yahya Cholil Gak Ngaruh!

Tagar Perlawanan Balik Nahdliyin
Dosen Ilmu Politik di berbagai perguruan tinggi itu menilai langkah Muhaimin kali ini, akan menimbulkan perlawanan dari warga NU.
“Ini akan memantik sebuah perlawanan dari kalangan Nahdliyin, karena 13 juta pemilih yang disebut Muhaimin itu adalah Nahdliyin. Para Kiai-kiai juga akan kehilangan simpati kepada Muhaimin dan itu dampaknya akan sangat luar biasa. PKB bisa saja tenggelam, jika Muhaimin tidak cepat-cepat memperbaiki semuanya,” papar Efriza.
Kalau Muhaimin menyebut suara 13 juta itu solid, menurut Efriza itu sebuah hal wajar karena pada pemilu-pemilu sebelumnya hubungan PKB dengan NU baik-baik saja.
Tapi saat ini hubungan antara keduanya sedang memburuk.
“Kalau untuk Muhaimin capres, Wallahu’alam ya, karena rasanya sudah sangat sulit sekali. Suara PKB juga pasti terpengaruh akibat itu, apalagi sekarang Gus Yahya sudah membuka pintu untuk semua partai. Dan friksi di dalam tubuh PKB pasti akan semakin tajam, dengan adanya kubu Gus Yaqut yang semakin kuat,” imbuhnya.
Efriza juga tidak melihat adanya upaya-upaya rekonsiliasi antara Muhaimin dengan Gus Yahya, yang terlihat hanya upaya saling menunjukkan kekuatan.
“Pascamuktamar NU sudah 6 bulan tidak terlihat ke arah itu, malah yang terlihat aksi saling unjuk kekuatan. Salah satunya dengan tergesernya Luqman Hakim dari pimpinan komisi II, serta manuver-manuver Gus Yahya bertemu Megawati, dan lainnya. Sepertinya ini hanya tinggal menunggu waktu bagi PKB, siapa yang menang dan yang kalah dengan adu kuat ini,” pungkasnya. (ASY)
Editor: Bejo. S
(RuPol)