RUANGPOLITIK.COM-Tokoh Islam liberal (JIL) Mohamad Guntur Romli mengaku heran dengan dalih pelaku penganiayaan terhadap Ade yang beralasan sakit hati akibat komentar-komentar yang sering terlontar dari mulut dosen Ilmu Komunikasi Universitas Indonesia tersebut.
Guntur Romli menegaskan, dosen UI, Ade Armando yang kritis di media sosial (medsos) tidak bisa jadi alasan dia untuk dikeroyok.
Guntur Romli mengatakan, sebab ada banyak pihak lain yang juga lantang kritik dan menyebar ujaran kebencian di medsos. Seperti Rocky Gerung, Refly Harun hingga Ustaz Abdul Somad.
“Omongan Ade Armando banyak nyakiti banyak orang, trus omongan Rocky Gerung, Refly Harun, Abdul Somad, Mustofa Nahra, Haikal Hassan gak nyakiti banyak orang? Terus bisa dianiaya di jalanan gitu?” ujar Guntur Romli di Twitter-nya, dikutip Kamis 14 April 2022.
Dia mengatakan, ada banyak pihak oposisi yang koar-koar. Tapi mereka tidak dianiaya seperti Ade Armando.
Berita Terkait:
Gegar Otak, Ade Armando Dipindah ke HCU RS Siloam
Ade Armando Luka Parah dan Nyaris Ditelanjangi Massa Aksi
Aksi BEM Ditunggangi? Rendahkan Martabat Gerakan Mahasiswa
Istana Panik Menghadapi Kemungkinan Aksi 11 April Berlanjut
“Selama Rocky Gerung, Refly Harun, Abdul Somad, Mustofa Nahra, Haikal Hassan bebas koar-koar, kenapa Ade Armando tidak boleh? Karena kalah narasi kemudian main aniaya gitu ya?” ucapnya.
“Karena Ade Armando dilaporkan ke polisi, tidak bisa jadi dalih dia dianiaya di jalanan, krn Abdul Somad, Mustafa Nahra, Rocky Gerung, Haikal Hassan, juga pernah dilaporkan ke polisi, tidak ada perkembangan jg tuh. Terus bisa dianiaya di jalanan gitu?” sambungnya.
Guntur Romli juga mengatakan bahwa status Ade Armando sebagai tersangka, tidak bisa dijadikan alasan untuk dia dikeroyok. Sebab Mustofa Nahrawardaya juga pernah jadi tersangka namun kemudian dilepas.
“Dibanding Ade Armando yang tak pernah ditangkap polisi, Mustofa Nahra lebih parah, dia pernah ditangkap polisi, masuk tahanan, eh tiba-tiba dilepaskan, gak jelas kasusnya. Dia malah yang bisa disebut kebal hukum. Terus bisa dianiaya di jalanan gitu?” kata Romli.(BJO)
Editor: B. J Pasaribu
(RuPol)