JAKARTA — Anggota Komisi V DPR RI Fraksi PDI Perjuangan, Sofwan Dedy Ardyanto, menyoroti kepadatan penumpang pada layanan KRL Commuter Line lintasan Tanah Abang-Rangkasbitung atau Green Line. Ia meminta pemerintah dan PT KAI segera meningkatkan kapasitas layanan agar masyarakat dapat menggunakan transportasi publik secara aman, nyaman, dan layak.
Sofwan Dedy mengatakan KRL telah menjadi salah satu moda transportasi utama masyarakat Jabodetabek selama puluhan tahun. Karena itu, peningkatan kualitas layanan perlu mengikuti pertumbuhan jumlah pengguna, terutama pada jalur yang mengalami lonjakan penumpang saat jam sibuk.
“Saya juga pernah lama jadi anker, anak kereta. Sudah waktunya, Pemerintah dan PT KAI berinvestasi lebih besar di jalur-jalur yang tingkat layanannya masih jauh dari kata manusiawi. Masyarakat penggunanya harus terangkut dengan aman, nyaman, dan layak,” tegas Sofwan Dedy.
Menurut dia, kepadatan di Green Line menjadi persoalan yang perlu segera diurai. Ia mengapresiasi keterbukaan Direktur Utama PT KAI Bobby Rasyidin yang menjelaskan bahwa pada jam puncak, satu gerbong dengan ukuran standar sekitar 60 meter persegi dapat menampung hingga 480 penumpang. Angka tersebut jauh di atas kapasitas ideal sekitar 360 orang per gerbong.
“Bayangkan, tingkat okupansi per gerbong sudah over hingga 160 persen. Problematika ini harus segera diurai. Tidak ada masalah yang tidak bisa diurai,” ujarnya.
Sofwan Dedy menyebut setidaknya terdapat tiga faktor yang menyebabkan kepadatan penumpang di lintasan Tanah Abang-Rangkasbitung semakin tinggi. Pertama, jumlah pengguna terus bertambah seiring berkembangnya kawasan permukiman padat di wilayah yang dilayani jalur tersebut.
Kedua, jumlah rangkaian KRL yang beroperasi masih terbatas. Sebagian besar perjalanan di lintasan Rangkasbitung masih menggunakan rangkaian delapan hingga 10 gerbong atau SF8 dan SF10.
Ketiga, waktu tunggu atau headway antarkereta masih berada di kisaran 10 hingga 15 menit. Kondisi tersebut salah satunya dipengaruhi keterbatasan infrastruktur persinyalan di jalur tersebut.
Untuk mengatasi persoalan itu, Sofwan Dedy mendorong Direktorat Jenderal Perkeretaapian Kementerian Perhubungan bersama PT KAI mempercepat peningkatan kapasitas infrastruktur pendukung KRL Tanah Abang-Rangkasbitung.
“Terutama dukungan daya listrik aliran atas, dukungan persinyalan, dan penambahan jumlah gerbong yang beroperasi di jam-jam sibuk atau puncak,” tegasnya.
Ia berharap penguatan infrastruktur tersebut dapat dilakukan secara bertahap sehingga jarak kedatangan antarkereta dapat dipangkas menjadi sekitar empat hingga lima menit. Dengan demikian, kapasitas angkut dapat meningkat dan kepadatan penumpang di dalam gerbong bisa ditekan.
“Saya berharap, dengan peningkatan tiga poin infrastruktur pendukung tadi, jarak kedatangan antar-kereta secara bertahap bisa mencapai jeda ideal empat sampai lima menit dan jumlah penumpang per gerbong bisa lebih ideal,” pungkas Sofwan Dedy.