Keputusan ini menjadi perbincangan karena posisi politik NasDem di kabinet Jokowi. Mereka mendeklarasikan sosok yang diketahui berseberangan secara politik dengan Jokowi dan partai penguasa PDIP
RUANGPOLITIK.COM –Keputusan Partai NasDem mendeklarasikan Anies Baswedan sebagai calon presiden (capres) di Pilpres 2024 menjadi sorotan publik.
Sejumlah pengamat menilai langkah itu sebagai pertaruhan partai yang masih duduk di kabinet Presiden Joko Widodo.
Partai besutan Surya Paloh itu dinilai cepat mendeklarasikan capres yakni satu tahun sebelum pendaftaran pemilu 2024 resmi dibuka.
Mereka pun menjadi satu dari dua partai politik yang sudah mendeklarasikan capres. Sebelumnya, ada Partai Gerindra yang menyatakan dukungan terhadap Prabowo Subianto.
Keputusan ini menjadi perbincangan karena posisi politik NasDem di kabinet Jokowi. Mereka mendeklarasikan sosok yang diketahui berseberangan secara politik dengan Jokowi dan partai penguasa PDIP.
Anies menjadi Gubernur DKI Jakarta setelah menumbangkan petahana Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok pada Pilkada 2017. Kala itu, Ahok diusung NasDem dan sejumlah parpol koalisi Jokowi.
Keputusan NasDem mendeklarasikan Anies sebagai capres membuat sejumlah kader mengundurkan diri. Meskipun Nasdem mengklaim 3 ribu kader bergabung usai Anies jadi capres resmi.
NasDem pun menjadi sasaran kritik PDIP-rekan koalisi NasDem di pemerintahan Jokowi. Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto menyebut partai yang sudah deklarasi capres mengganggu konsentrasi dalam pemulihan bangsa khususnya masalah perekonomian.
Sementara itu, Jokowi belum merespons langkah NasDem itu. Dia mengaku masih dalam kondisi berduka atas tragedi Kanjuruhan yang menewaskan 131 orang suporter sepak bola.
Pengamat politik Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Wasisto Raharjo menilai NasDem sedang mempertaruhkan posisinya di kabinet Jokowi. Menurutnya, NasDem melakukan hal itu demi memperbaiki posisi pada Pemilu 2024.
Wasisto menilai NasDem sadar betul keputusan mendukung Anies sangat berisiko. Namun, mereka rela mempertaruhkan posisi di kabinet agar bisa menjadi pemain utama pada pemilu berikutnya.
“NasDem sebagai partai besar tentu ingin menjadi pemain. Pilihan rasional jatuh ke Anies meskipun berisiko untuk posisi sekarang,” tukas Wasisto kepada awak media, Minggu (9/10/2022).
Wasisto mengatakan langkah ini membuat NasDem punya posisi lebih baik ketimbang Pilpres 2019. Mereka punya daya tawar lebih karena menjadi kekuatan utama koalisi Anies.
Wasisto berpendapat keputusan NasDem ini memang berisiko tinggi karena mendukung sosok yang berseberangan dengan koalisi Jokowi. Namun, Wasisto melihat NasDem punya hitung-hitungan politik untuk menekan risiko terdepak dari barisan Jokowi.
“Kalau kita melihat lini masa pemilu ke depan, potensi reshuffle kecil karena mendekati akhir masa pemerintahan. NasDem tahu betul kondisi psikologis seperti itu sehingga bermanuver,” tandasnya.
Editor: B. J Pasaribu
(RuPol)