Jurnalist Senior Bidang Politik, B. J Pasaribu menganalisa sosok yang dibutuhkan untuk menjadi Gubernur DKI Jakarta selanjutnya adalah sosok yang berspesifikasi komplet.
RUANGPOLITIK.COM – Pilkada 2024 secara serentak sudah terlihat geliatnya saat ini.Sejumlah nama-nama politisi menghiasi bursa pencalonan sebagai kepala daerah.
Di DKI Jakarta, dengung siapa yang akan meneruskan kepemerintahan setelah Anies Baswedan cukup ramai jadi pemberitaan.
Setelah muncul nama Sahroni, tentu menjadi pertanyaan siapa yang akan menjadi wakilnya?
Jurnalist Senior Bidang Politik, B. J Pasaribu menganalisa sosok yang dibutuhkan untuk menjadi Gubernur DKI Jakarta selanjutnya adalah sosok yang berspesifikasi komplet.
Siapa yang akan cocok bisa disandingkan dengan Sahroni, kan sekarang sudah muncul itu misalnya
“Siapa Yang cocok dan bisa disandingkan Jika Ahmad Sahroni maju pada Pilkada DKI Jakarta, lagi sekarang sekarang sudah muncul berbagai pilihan seperti misalnya syahrini cocok mendampingi Cagub yang populis di mata warga Jakarta,” usulnya.
B. J Pasaribu mengatakan calon Gubernur selanjutnya harus mengerti persoalan Jakarta dan memahami konsep dalam penyelesaiannya dan termasuk dari sisi ketenaran dan populis di mata warga DKI Jakarta.
“Ya tentu, pertama, memang dia harus mengerti persoalan Jakarta, dan punya konsep untuk menyelesaikannya gitu. Jadi punya konsep tentang penyelesaian persoalan banjir, persoalan macet, persoalan kepadatan penduduk dan lain sebagainya, ekonomi,” katanya kepada RuangPolitik.com saat dihubungi, Sabtu (2/3/2024).
Kedua adalah dibutuhkan pengalaman dalam menyelesaikan masalah perkotaan untuk bisa menjadi Gubernur DKI Jakarta.
B. J Pasaribu menyebut bahwa ada sosok alternatif lainnya yaitu Ridwan Kamil salah satu yang cocok mengisi posisi tersebut.
“Nah yang kedua, memang punya pengalaman ya dalam hal menyelesaikan persoalan-persoalan di perkotaan gitu. Dalam hal ini yang relatif punya pengalaman di kota besar,” tandasnya.
B. J Pasaribu mengingatkan agar calon Gubernur DKI Jakarta juga perlu menyiapkan konsep transisi, dari Jakarta sebagai Ibu Kota, menjadi bukan Ibu Kota Negara.
“Kita lihat aja semua masih dinamis, masih bekembang, masih panjang dan ke depan masih ada banyak lagi nama-nama yang bisa dampingi Sahroni,” pungkasnya.(RVO)
Editor: Syafrizal
(RuPol)