RUANGPOLITIK.COM – Menurut Kementerian Kesehatan, pemberian ASI eksklusif saat bayi dapat menurunkan risiko stunting (kerdil). Bahkan, pada Hari Gizi Nasional, 25 Januari 2022 lalu, pemerintah mendeklarasikan untuk fokus mencegah stunting dan obesitas.
Wakil ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI Sultan B Najamudin mengungkapkan data UNICEF yang menyebutkan bahwa hampir 50 persen ibu-ibu di Indonesia saat ini tidak lagi menyusui bayi mereka dengan ASI eksklusif. Para orang tua justru lebih memilih untuk memberikan susu formula dengan harga yang relatif mahal.
“Bagi orang tua saat ini, memberikan susu formula pada bayi sudah seperti gaya hidup. Akibatnya pengeluaran belanja bagi bayi menjadi sangat tinggi. Padahal para Ibu memiliki nutrisi yang gratis dan sangat menyehatkan bagi bayi-bayi mereka,” ujar Sultan dalam keterangan tertulisnya kepada RuPol, Senin, (8/8).
Menurutnya, pemerintah berkewajiban memberikan edukasi bahkan pengawasan terkait pentingnya pemberian ASI eksklusif kepada masyarakat khususnya para orang tua dan calon orang tua. Hal ini sudah jelas diatur dalam peraturan pemerintah nomor 33 tahun 2012.
“Jangan sampai para orang tua merasa aneh dan melupakan tanggungjawab utamanya untuk memberikan ASI eksklusif pada anak-anaknya sendiri. Tradisi orang tua modern ini sangat tidak dianjurkan, karena akan berdampak buruk bagi kualitas imunitas dan kesehatan anak di masa depan”, tegasnya.
Untuk itu, Senator yang juga mantan Wakil Gubernur Bengkulu ini meminta Pemerintah untuk serius memberikan perhatian terhadap persoalan Stunting di tanah air dengan gerakan pemberian ASI Eksklusif kepada bayi di bawah dua tahun secara Nasional.
Dari data yang disampaikan oleh Sultan, sebagian besar Daerah masih memiliki persentase pemberian ASI ekslusif di bawah rata-rata nasional. Gorontalo tercatat sebagai provinsi dengan persentase terendah yakni hanya 52,75%. Diikuti Kalimantan Tengah dan Sumatera Utara sebesar 55,98% dan 57,83%.
“Untuk menghasilkan kualitas SDM generasi muda Indonesia yang sesuai dengan kebutuhan dan tantangan global masa depan, tentu tidak terlepas dari cara bangsa ini memberikan nutrisi yang sesuai kepada anak-anak terutama di usia bawah dua tahun. Kita memiliki tanggung jawab moral untuk memastikan bonus demografi diimbangi dengan kualitas SDM dalam menyongsong Indonesia emas 2045,” pungkas Sultan. (RD)