RUANGPOLITIK.COM-Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky mengatakan kesepakatan gencatan senjata dengan Moskow tak bisa mereka terima, sebab memungkinkan pasukan Rusia tetap berada di wilayah pendudukan.
Zelensky mengklaim mereka akan memenangkan tiga babak dalam invasi yang dimulai Rusia sejak 24 Februari.
Tahap pertama konflik, dirinya mengklaim pasukan Ukraina telah berhasil menghentikan serangan Rusia di ibu kota dan wilayah sekitarnya.
Pada tahap kedua, Ukraina berencana akan mengusir pasukan Rusia dari wilayahnya. Sedangkan pada tahap ketiga, mereka akan bergerak untuk sepenuhnya memulihkan integritas teritorialnya.
Berita Terkait:
Rusia Ambil Alih Kherson Ukraina, Rubel Diberlakukan hingga Internet Dialihkan
Gedung Putih Kecam Indonesia Undang Rusia di KTT G20
Ribuan Muslim Inggris Sholat Dan Rayakan Idhul Fitri Di Stadion Blackburn Rovers
Jokowi Tegas Tolak Bantu Ukraina Kirim Senjata, Putin Siap Datang ke Indonesia
Zelensky mengatakan dia tidak akan menerima kesepakatan gencatan senjata yang akan memungkinkan pasukan Rusia untuk tetap di posisi mereka saat ini.
Kami tidak akan menerima konflik yang membeku,” ujarnya, dikutip RuPol dari Al Jazeera, Kamis, (5/5/2022).
Terkait hal itu, Zelensky tidak memberikan rincian lebih lanjut dalam pembicaraan di KTT Dewan CEO Wall Street Journal pada Rabu (4/5/2022) kemarin.
Dia hanya memperingatkan, Ukraina akan ditarik ke dalam “ladang diplomatik” seperti perjanjian damai Ukraina timur pada 2015 lalu, yang kala itu ditengahi oleh Prancis dan Jerman.
Pada 2014, Rusia mencaplok Semenanjung Krimea Ukraina dan memberikan dukungannya di balik pemberontakan separatis di wilayah Donbas, jantung industri timur Ukraina.
Presiden Rusia Vladimir Putin menyebut pengakuan Ukraina soal kedaulatan Rusia atas Krimea dan pengakuannya atas kemerdekaan wilayah separatis sebagai syarat utama hentikan permusuhan.
Zelensky menekankan, agar pertempuran berakhir, Putin harus setuju bertemu langsung dengannya untuk merundingkan kesepakatan apa pun.
“Sampai presiden Rusia menandatanganinya atau membuat pernyataan resmi, saya tidak melihat poin dalam perjanjian semacam itu,” ujarnya melanjutkan.
Sementara itu, saat ini komando militer Rusia sedang berusaha untuk meningkatkan tempo operasi ofensifnya di Ukraina timur.
Juru bicara Kementerian Pertahanan, Oleksandr Motuzyanyk mengatakan Moskow telah melakukan hampir 50 serangan udara pada Selasa.
Dia juga mengatakan tembakan artileri Rusia dan serangan udara terus berlanjut secara berkala di pabrik baja Azovstal.
Laporan kementerian tentang situasi militer di seluruh Ukraina tidak dapat segera diverifikasi.
Secara terpisah, Walikota Mariupol Vadym Boychenko mengatakan bahwa pertempuran di pabrik tersebut berlanjut pada Rabu kemarin. (BJP)
Editor: B. J Pasaribu
(RuPol)