• Personalia
  • Kerjasama & Iklan
  • Pedoman Media Siber
22 - 05 - 2026
  • Login
  • Register
No Result
View All Result
Ruang Politik
  • Home
  • Nasional
  • Kilas Update
  • Daerah
  • RuangPolling
  • RuangTokoh
  • RuangOpini
  • Home
  • Nasional
  • Kilas Update
  • Daerah
  • RuangPolling
  • RuangTokoh
  • RuangOpini
No Result
View All Result
Ruang Politik
No Result
View All Result
Home Kilas Update

Qodari: Polarisasi Politik Berbahaya Secara Psikologi Politik Matikan Karakter Seseorang

by Rupol
in Kilas Update
434 9
0
474
SHARES
1k
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

RUANGPOLITIK.COM — Laboratorium Psikologi Politik UI menyebutkan, polarisasi atau terbelahnya masyarakat karena perbedaan sikap politik bukan lagi dianggap mitos, tetapi nyata dan hidup di masyarakat Indonesia.

Mengutip hasil survei Laboratorium Psikologi Politik UI, menunjukkan bahwa masyarakat terpolarisasi menjadi 2 kelompok dengan ukuran proporsional (43 persen vs 57 persen). Kluster 1 memiliki posisi relatif pada ujung spektrum kiri yaitu kelompok pro Jokowi yang relatif sekuler kearah moderat, puas terhadap kinerja pemerintah, relatif tidak berprasangka terhadap kekuatan ekonomi asing dan aseng. Sementara kluster 2 memiliki positif relatif pada ujung spektrum kanan dalam ideologi politik dimensi keagamaan.

RelatedPosts

Ikatan Keluarga Besar Alumni SMPN Tanjung Pati 1980/2025. Gelar Festival Karaoke 2026

Dinas Ketapang Payakumbuh Gelar GPM

Pemko Payakumbuh Gelar Upacara Harkitnas Ke 118

Direktur Eksekutif Indo Barometer M. Qodari sepakat bahwa polarisasi bukan sekedar mitos tapi nyata di masyarakat. Ia mengungkapkan tiga variabel yang menimbulkan polarisasi politik. Pertama, pemikiran dan aksi para tokoh politik; Kedua, pembelahan (cleavages) di Indonesia; Ketiga, problem desain konstitusi soal ketentuan pemenang 50% +1 dalam pilpres.

Khusus tentang ketentuan pemenang 50% +1 dalam pilpres, Qodari menyebut hal itu sebagai problem desain konstitusi. Sehingga dinilai sebagai pemicu lahirnya polarisasi politik ekstrem di masyarakat.

“Jadi kita ini mohon maaf, saya melihat salah salah satu problemnya ada di desain konstitusi kita, dengan berat hati, di mana problemnya, di aturan mengenai pemenang pilpres harus 50%+1,” ujar Qodari, dilansir dari JawaPos.com, Selasa (21/3/2023).

Dikatakan Qodari, pada Pilpres 2024 mendatang meskipun diikuti oleh lebih dari dua pasang calon presiden dan calon wakil presiden, pada akhirnya akan mengkerucut menjadi hanya dua pasang calon.

Pasalnya, tambah Qodari, untuk meraih suara yang diamanatkan konstitusi tergolong tidak mudah diraih oleh masing-masing paslon capres-cawapres.

“Dengan aturan 50%+1 maka calon dipaksa ujungnya menjadi dua, mau nanti 2024 ini ada 4 pasang 3 pasang itu ujungnya pasti 2, karena sangat sulit bagi calon manapun untuk menang dalam satu putaran,” paparnya.

Dari beberapa hasil survei, kata Qodari, tiga nama papan atas calon presiden 2024 antara Prabowo Subianto, Ganjar Pranowo dan Anies Baswedan suara dukungannya relatif sama, tidak ada perbedaan yang signifikan.

“Karena multi partai dan calonnya pada hari ini ada tiga calon yang kekuatannya relatif sama Ganjar, Anies, Prabowo itu elektabilitasnya nggak beda-beda jauh, sulit untuk bisa mencapai 50% + 1 dalam satu putaran,” urai Qodari.

“Ujung-ujungnya nanti akan dua putaran, entah Ganjar lawan Anies Ganjar lawan Prabowo atau Prabowo melawan Anies kalau itu terjadi pasti nanti akan dibelah lagi seperti ini, calon Islam vs non Islam,” imbuhnya.

Lanjut Qodari, ia khawatir saat terjadi dua pasang calon maka polarisasi dari dimensi agama akan kembali tersematkan seperti Pilpres 2019 lalu.

“Kalau Ganjar lawan Anies, Ganjar calon Kristen, Anies calon Islam pasti gitu, kalau Anies lawan Prabowo, Prabowo jadi calon Kristen, Anies calon Islam.” ucapnya.

Berkaca pada Pilpres 2019, kata Qodari, Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang sudah jelas dari keluarga muslim masih saja dicap sebagai non muslim, keturunan PKI dan seterusnya. Hal itu bisa terjadi pada Prabowo Subianto dimana mayoritas berasal dari keluarga non muslim.

“Jokowi yang gak ada Kristennya bisa jadi calon Kristen, nah Prabowo ibunya Kristen, kakaknya Katolik, adiknya Kristen. Katakanlah Ganjar lawan Prabowo, Ganjar jadi Kristen, Prabowo balik jadi Islam, apa gak lucu kita. Sementara kita sudah tahu bahwa memang itu yang dimakan, bukan hanya oleh masyarakat tetapi juga oleh elit,” sesalnya.

Selain pilpres, Qodari juga menyatakan problem desain konstitusi juga terjadi pada Pilkada DKI Jakarta yang mengharuskan 50%+1 untuk keluar sebagai pemenang.

“Pilkada Jakarta, kenapa Pilkada Jakarta panas? Gara-gara UU khusus Jakarta lex specialis yang mengatur bahwa pemenang gubernur itu harus 50% berbeda dengan aturan pilkada lainnya,” kata Qodari.

Oleh sebab itu, Qodari berkesimpulan terjadinya polarisasi ekstrem karena berakar dari konstitusi, untuk mencegahnya harus dilakukan perubahan.

“Jadi menurut saya dari kacamata ilmu politik salah satu penyebab atau pengkutuban yang ekstrem di kita itu adalah desain konstitusi atau desain aturan dan itu harus diubah. Kalau konstitusi lewat amandemen UUD 1945,” tukasnya.

Editor: Ivo Yasmiati
(RuPol)

 

Previous Post

LSI: Dukungan Jokowi Membuat Elektabilitas Prabowo Melesat

Next Post

Kritikan Mahfud MD Bicara Lemahnya Integritas dan Transaksional Hukum

Rupol

Next Post
Kritikan Mahfud MD Bicara Lemahnya Integritas dan Transaksional Hukum

Kritikan Mahfud MD Bicara Lemahnya Integritas dan Transaksional Hukum

Recommended

Ikatan Keluarga Besar Alumni SMPN Tanjung Pati 1980/2025. Gelar Festival Karaoke 2026

Ikatan Keluarga Besar Alumni SMPN Tanjung Pati 1980/2025. Gelar Festival Karaoke 2026

1 hari ago
Dinas Ketapang Payakumbuh Gelar GPM

Dinas Ketapang Payakumbuh Gelar GPM

1 hari ago

Trending

CIC Laporkan ke KPK Dugaan Mark Up Proyek Pembangkit Listrik PT. Bumi Siak Pusako

CIC Laporkan ke KPK Dugaan Mark Up Proyek Pembangkit Listrik PT. Bumi Siak Pusako

1 tahun ago
Survei: 69 Persen Masyarakat Indonesia Tak Suka Israel

Survei: 69 Persen Masyarakat Indonesia Tak Suka Israel

3 tahun ago

Popular

CIC Laporkan ke KPK Dugaan Mark Up Proyek Pembangkit Listrik PT. Bumi Siak Pusako

CIC Laporkan ke KPK Dugaan Mark Up Proyek Pembangkit Listrik PT. Bumi Siak Pusako

1 tahun ago
Desri : Jangan Tanggung tanggung Safni Harus Ambil Jabatan Ketua DPC Partai Gerindra Kabupaten 50 Kota

Desri : Jangan Tanggung tanggung Safni Harus Ambil Jabatan Ketua DPC Partai Gerindra Kabupaten 50 Kota

3 minggu ago
Ilustrasi Dugem/Ist

13 Night Club Terpopuler yang Paling Digemari di Jakarta

3 tahun ago
Ketua KONI Payakumbuh Terpilih, Chairul Mufti Targetkan Posisi 3 Besar Porprov Sumbar 2026

Ketua KONI Payakumbuh Terpilih, Chairul Mufti Targetkan Posisi 3 Besar Porprov Sumbar 2026

4 minggu ago
Kota Barus, Tapanuli Tengah, Sumatera Utara/Wikipedia

Menelisik Sejarah Kota Barus, Gerbang Dakwah Islam Pertama di Indonesia

3 tahun ago
  • Personalia
  • Kerjasama & Iklan
  • Pedoman Media Siber

Copyright © 2023 Ruangpolitik.com - Smart Guide In Election - Cre4tive

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

ruang politik
No Result
View All Result
  • Home
  • Nasional
  • Kilas Update
  • Daerah
  • RuangPolling
  • RuangTokoh
  • RuangOpini
  • Login
  • Sign Up

Copyright © 2023 Ruangpolitik.com - Smart Guide In Election - Cre4tive