Jurnalist Senior Bidang Politik, B. J Pasaribu menganalisa sosok Surya Paloh memberikan dampak elektoral pada Pilpres 2024.
RUANGPOLITIK.COM – Pengaruh Ketua Umum Partai Nasdem Surya Paloh dinilai bisa menjadi kunci untuk mengajak gerbong Koalisi Perubahan bergabung ke pemerintahan Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka ke depan.
Hal itu ditengarai menjadi pertimbangan utama bagi Presiden Joko Widodo untuk menemui Surya beberapa hari setelah Pemilu 2024 sebelum bertemu dengan elite partai politik lainnya.
Meski demikian, upaya menggabungkan kekuatan lawan politik seusai Pemilihan Presiden (Pilpres) 2024 diprediksi tidak mudah.
Pasalnya, tak hanya memiliki kekuatan suara yang relatif kuat, koalisi pengusung pasangan Anies Baswedan-Muhaimin Iskandar dan Ganjar Pranowo-Mahfud MD juga cenderung mendapatkan dukungan dari masyarakat sipil untuk meneruskan gerakan prodemokrasi.
Taktik Dibalik Politik Elektoral?

Jurnalist Senior Bidang Politik, B. J Pasaribu menganalisa sosok Surya Paloh memberikan dampak elektoral pada Pilpres 2024.
B. J Pasaribu menilai kualitas Surya Paloh Sebagai Ketua Umum Partai NasDEm berperan besar memperkuat pencitraan atau branding dalam politik elektoral.
“Ya, sudah tentu ya..branding integritas ini faktor kunci, karena salah satu kualitas personal yang dianggap paling penting oleh masyarakat untuk seorang pemimpin nasional adalah integritas,” urai B. J Pasaribu saat dihubungi Rapos, Jumat (15/32024).
Soal politik elektoral, imbuh B. J Pasaribu, peta komunikasi sepertinya terkait dan fokus pada prospek konfigurasi politik koalisi yang hingga kini sebenarnya masih cukup dinamis dan cair.
Kemudian, kata B. J Pasaribu, perihal politik kebangsaan, belakangan isu penundaan pemilu yang terus berembus kembali, terkait nasib tentang sistem proporsional tertutup atau pun terbuka yang sedang menggantung menunggu nasib putusan MK.
“ya kalau saya menilai pada dua hal yaitu bertemu sebagai upaya mencari solusi, dan upaya komunikasi politik antarpartai. Lagi sejatinya sih tidak ada hal yang urgen atau spesifik, tetapi yang jelas karena Golkar mungkin partai pemenang pemilu yang kedua, partai merasa perlu komunikasi, perlu curhat, dan kebetulan (Golkar) mungkin punya tarikan nafas (dari sisi politik elektoral dan kebangsaan),” pungkasnya.(RVO)
Editor: Syafrizal
(RuPOl)