RUANGPOLITIK.COM-Pemilu Serentak 2024 menjadi momentum semakin baik atau terpuruknya demokrasi untuk menuju kesejahteraan rakyat di tingkat nasional maupun daerah di Indonesia.
Politikus dan pengamat melihat pemilu nanti tak lebih baik dari sebelumnya. Namun, ada pula yang tetap optimistis Pemilu 2024 dapat melahirkan pemimpin yang bisa mensejahterakan masyarakat.
Demikian salah satu catatan yang mengemuka dari diskusi yang digelar Perhimpunan Advokat Pro Demokrasi Lampung di Cik Wo Resto and Coffe di Jl. Kimaja, Kota Bandarlampung, Minggu malam (26/6/2022).
Diskusi bertema “Urgensi Pemilu Serentak 2024: Harapan Lahirnya Pemimpin yang Mensejahterakan” ini dihadiri para pentolan aktivis berbagai universitas serta akademisi, politisi, advokat, dan lainnya.
Mereka yang menjadi narasumber adalah Dr. (Can) Darmawan Purba dan pembicara lainnya: anggota DPRD Lampung Midi Iswanto, politikus senior yang juga jurnalis Fajrun Najah Ahmad.
Berita Terkait:
Habib Rizieq Tak Mau Ikut Campur Soal Pemilu 2024
Jelang Pemilu 2024, Demokrat Lampung Masih Terbelenggu Banyak Masalah
Kapolri: Dewan Pers Bertemu, Sepakat Cegah Polarisasi Pemilu
Jokowi Bakal Batal Hadiri Pembukaan Tahapan Pemilu 14 Juni
Lainnya, advokat dan pengusaha Agus Bakti Nugroho (BN), Mantan Bawaslu Lampung Nazarudin, Wasekjen Bara JP Relly Reagen, serta advokat dan politikus Muhammad Junaidi atau yang akrab dipanggil Adi.
Dipantik Herman Batin Mangku, pembicara dan peserta diskusi tampak antusias mengikuti jalannya acara hingga melebihi sedikit waktu yang ditentukan panitia. yakni pukul 22.24 WIB.
Pemilu Serentak 2024 akan menjadi pesta besar pesta demokrasi di Indonesia. Pada 14 Februari 2024, Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden, DPR RI, DPD RI, serta DPRD provinsi dan kabupaten/kota.
Pilkada serentak akan digelar digelar pada 27 November 2024 untuk memilih gubernur dan wakil gubernur, bupati dan wakil bupati, serta wali kota dan wakil wali kota di seluruh Indonesia.
Mantan Sekretaris DPW Demokrat Provinsi Lampung Fajrun Najah Achmad pesimis Pemilu Serentak 2024 akan lebih baik. Sebaliknya, ada potensi semakin buruk, kata Fajrun yang mengklaim dirinya kini penikmat politik.
Politikus senior ini memperkirakan adanya ambang batas 20 persen serta biaya sosialisasi para calon yang begitu besar dan lainnya berpotensi menjauhkan harapan masyarakat terhadap calon pemimpinnya.
“Saya 10 tahunan berada dalam ‘permainan’ tersebut, Pemilu Serentak 2024 bakal banyak kopi pahit yang bakal dirasakan masyarakat,” katanya pada diskusi yang dihadiri para wartawan.
Politik itu tidak linear, tandasnya kepada para pentolan aktivis mahasiswa berbagai universitas.
Mantan Pemimpin Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Lampung, Nazaruddin mengungkapkan pengalaman saat pemilu lalu. Banyak modus yang dilakukan para calon untuk menyiasati aturan main pemilihan.
Dia juga mengungkapkan ide-ide untuk menutup cela agar tak ada lagi permainan-permainan kecurangan yang dilakukan calon serta timnya maupun penyelenggara pemilu hingga tingkat paling bawah.
Mahasiswa dan masyarakat harus sama-sama mengawal pesta demokrasi ini. Demikian pula saat pemilihan, dia berpesan agar masyarakat memilih calon pemimpin yang berintegritas.
Agus BN yakin Pemilu 2024 merupakan pesta demokrasi yang nantinya bisa mensejahterakan rakyat. Dia juga menjelaskan keterlibatan pengusaha dalam Pemilu 2024 merupakan keniscayaan. “Pengusaha butuh keamanan keberlangsungan usahanya,” kata dia.
Pada catatan penutupnya, Darmawan Purba melihat sistem pemilu saat ini berpesan agar apa yang mereka titipkan kepada para wakil rakyat agar benar-benar menawarkan calon pemimpin yang diharapkan masyarakat. (Her)
Editor: B. J Pasaribu
(RuPol)