RUANGPOLITIK.COM – Elektabilitas Partai Golkar, PKB dan PAN mengalami penurunan yang cukup drastis, dalam hasil survey terbaru Indonesia Political Opinion (IPO).
Ketiga partai yang memunculkan wacana penundaan pemilu itu, sepertinya mendapat penolakan dari publik dengan tidak lagi memilih partai-partai tersebut.
Direktur Eksekutif IPO Dedi Kurnia Syah menjelaskan, imbas elektoral pada ketiga Parpol tersebut berdampak pada perubahan peta rencana koalisi politik 2024.
Golkar dari sebelumnya berada di posisi 2 turun ke posisi empat dengan 8.5 persen, PKB dari posisi kelima turun ke posisi ketujuh dengan 4.6 persen.
Sedangkan PAN terancam gagal melenggang ke senayan dengan elektabilitas hanya 2.2 persen.
“Perubahan itu bisa pengaruhi rencana koalisi 2024, semula Golkar punya kans memimpin koalisi, tetapi kini bisa saja Golkar hanya akan jadi mitra koalisi, mimpi mengusung Airlangga Hartarto bisa juga gagal di tengah jalan” kata Dedi.
Menurut Dedi, jika melihat pola penurunan pada ketiga partai tersebut, maka hampir jelas alasannya adalah wacana penundaan pemilu.
“Ketiga partai itu muncul sebagai pengusul penundaan pemilu melalui ketum masing-masing. Sehingga itu mendapat penolakan dari publik, yang berimbas langsung kepada elektoral partai mereka,” terang Dedi.
“Untuk PKB memang ada faktor lain, yakni konflik atau menjauhnya NU dibawah Gus Yahya dari PKB pimpinan Muhaimin. Penurunan itu sudah terlihat sejak terpilihnya Gus Yahya sebagai Ketum PBNU,” lanjutnya.
Berita terkait:
IPO Rilis Survei Capres, Elektabilitas Prabowo dan Anies Masih Teratas
Charta Politika: Ganjar, Prabowo dan Anies Masih Tiga Besar Capres 2024
Survey SMRC: Masyarakat Yang Puas Kinerja Jokowi, Tolak Penundaan Pemilu
Dedi Kurnia: Jika Reshufle, Itu Hanya Sekedar Memberi Jatah PAN
Pada rilis survey yang sama, IPO juga mendapatkan data tergerusnya elektabilitas Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hartarto.
Tingkat keterpilihan Airlangga sebagai calon presiden bahkan kalah jauh dari kader Golkar Dedi Mulyadi.
“Dari sisi ketokohan, Airlangga ditinggal jauh oleh Dedi Mulyadi dengan tingkat keterpilihan 3.4 persen dalam tawaran 20 nama potensial, Airlangga sendiri pada skema yang sama hanya mendapat 0.2 persen. Ini bukti kegagalan Airlangga dalam mempertahankan reputasi politiknya di hadapan publik,” pungkasnya. (CHR)
Editor: Asiyah Lestari
(RuPol)